MP Pesisir Barat - Di era 2026, ironi masih terjadi di ujung Sumatera. Video viral di media sosial (medsos) memperlihatkan warga 4 desa di Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, mereka harus mempertaruhkan nyawa melintasi pantai terabrasi pakai gerobak sapi. Sabtu (13/6).
Pasalnya, jalan utama antar desa dilaporkan hancur lebur dan tidak bisa dilalui kendaraan maupun gerobak. Karena akses darat mati, warga 3T - Tertinggal, Terdepan, Terluar - terpaksa menyusuri bibir pantai yang diterjang ombak.
Rombongan 4 gerobak sapi bermuatan asbes dan kebutuhan pokok dari pasar harus ekstra hati-hati. Bahkan satu gerobak sempat terbalik akibat cekungan dalam yang terbentuk karena abrasi.
“Jalan utama antar desa kami dalam kondisi hancur lebur dan tidak bisa dilalui gerobak sapi, sehingga kami harus menyusuri pantai seperti ini,” ujar warga dalam rekaman yang diunggah akun Tik-tok Lampung City Info.
Meski laut sedang surut, risiko tetap tinggi. Pantai yang tergerus membuat jalur sempit dan licin. Warga berharap pemerintah daerah dan pusat segera turun tangan. Bagi mereka, perbaikan jalan bukan kemewahan, tapi kebutuhan mendesak agar mobilitas dan ekonomi bisa berjalan aman.
Video tersebut memicu keprihatinan warganet. Pertanyaannya satu: sampai kapan warga Bangkunat harus pilih antara mati di jalan rusak, atau mati diterjang ombak?
