Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tren Positif, OJK Paparkan Kenaikan kredit Perbankan

Selasa, 03 Maret 2026 | Selasa, Maret 03, 2026 WIB Last Updated 2026-03-04T06:39:56Z


MP Bandar Lampung – Kinerja lembaga jasa keuangan di Provinsi Lampung sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung, Otto Fitriandy, menyampaikan total kredit perbankan di Lampung mencapai Rp111,98 triliun atau tumbuh Rp5,03 triliun (4,7 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh peningkatan pada beberapa segmen utama, khususnya kredit modal kerja dan kredit konsumsi,” ujar Otto dalam agenda Media Update OJK Lampung bersama insan media di Ballroom Hotel Holiday Inn Bandar Lampung, Selasa (3/2/2026).

Secara rinci, kredit modal kerja tercatat sebesar Rp54,14 triliun atau tumbuh 2,75 persen. Kredit investasi mencapai Rp18,03 triliun dengan pertumbuhan 3,34 persen. Sementara itu, kredit konsumsi menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni Rp39,83 triliun atau meningkat 8,14 persen.

Dari sisi kualitas kredit, nominal non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar Rp2,64 triliun dengan rasio NPL gross 2,36 persen dan NPL net 1,08 persen. Otto menjelaskan bahwa rasio tersebut masih berada dalam batas yang relatif terkendali di kisaran 2–3 persen, meskipun menunjukkan kecenderungan meningkat pada 2025.

Menurut Otto, secara umum, kualitas kredit masih terjaga. Namun, terdapat tren kenaikan rasio NPL, termasuk pada segmen UMKM yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan. Kualitas kredit UMKM menunjukkan peningkatan nominal NPL terutama pada periode 2023 hingga 2025, sehingga menjadi perhatian pengawasan OJK.

Di sisi penghimpunan dana, total DPK perbankan Lampung mencapai Rp71,01 triliun atau tumbuh Rp3,1 triliun (4,6 persen). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan tabungan yang cukup kuat.

Rinciannya, giro tercatat sebesar Rp9,53 triliun, tabungan Rp41,85 triliun, dan deposito Rp19,62 triliun. “Pertumbuhan DPK terutama berasal dari tabungan masyarakat, sementara giro dan deposito mengalami fluktuasi yang relatif moderat,” jelas Otto.

Secara tren, penyaluran kredit perbankan di Lampung terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Total kredit tumbuh dari Rp88,4 triliun pada 2020 menjadi Rp111,9 triliun pada 2025. Meski sempat melambat pada 2023, pertumbuhan kembali menguat pada 2024 dan bergerak moderat di 2025.

Otto menuturkan, kredit modal kerja dan konsumsi masih menjadi motor utama ekspansi kredit, sedangkan kredit investasi cenderung stagnan.

Tren Data Pengaduan Investasi dan Pinjol Ilegal

Terkait aduan masyarakat, Otto memaparkan bahwa berdasarkan tren data pengaduan Lampung periode Januari 2025 hingga 31 Januari 2026, OJK menerima 114 laporan terkait investasi ilegal dan 381 laporan pinjaman online (pinjol) ilegal.

Adapun lima modus investasi ilegal yang paling banyak dilaporkan masyarakat Lampung yakni jasa periklanan dengan sistem deposit, duplikasi penawaran investasi yang berizin, money game, penawaran pendanaan, serta investasi pertanian dan perkebunan.

“Karena tren pengaduan masih cukup tinggi, masyarakat dituntut lebih waspada dalam menggunakan layanan jasa keuangan, terutama yang berbasis online. Pastikan layanan tersebut memenuhi aspek legal dan logis,” terangnya. (NR)

×
Berita Terbaru Update