MP Lampung - Peristiwa tragis di Jalan ZA Pagar Alam Kecamatan Labuhan Ratu, Bandar Lampung, pada Sabtu 9 Mei 2026 lalu, mengingatkan kita pada tragedi di Jalan Teuku Umar Pasar Koga Bandar Lampung 11 tahun silam.
Kala itu, 27 Agustus 2015, Bharada Jefri Saputra anggota Brimobda Lampung, tewas ditembak pelaku Curanmor saat mencoba mempertahankan sepeda motornya di depan ATM Jalan Teuku Umar, Kedaton Bandar Lampung.
Kapolda Lampung kala itu, Brigjend Pol Edwarsyah Pernong, lantas menginisiasi terbentuknya tim elit buru sergap Polda Lampung yang diberi nama Team Khusus Anti Bandit yang dibentuk pada 30 Agustus 2015.
"Tekab 308 yang melekat pada Unit tindak Reserse Polda bukanlah angka semata, melainkan memiliki makna tanggal 30 Bulan 8 atau tanggal 30 Agustus," cetus Endra Zulkarnain di akun FB Pro-nya yang dilansir Tim Media Panglima, pada Kamis (14/06/2026).
Lanjut terang Endra, saat itu Jatanras Polda Lampung dan Jatanras Polresta Bandar Lampung sebagai tim yang dibentuk oleh Kapolda Lampung Brigjen Pol Edwarsyah Pernong, memburu pelaku Curanmor penembak Bharada Jefri anggota Sat Brimob Polda Lampung.
Bharada Jefry kala itu menjadi korban pelaku Curanmor yang ditembak mati saat melawan dengan gagah berani, menghadapi kelompok penjahat bersenjata api karena mempertahankan kendaraan miliknya.
"Kini, kisah itu seolah terulang kembali dengan peristiwa tewasnya Bripka (Anumerta) Arya Supena, anggota Intelkam Polda Lampung," ujar Endra.
Brigadir Arya Supena meninggal dunia usai ditembak pelaku Curanmor di depan toko oleh-oleh Yusi Akmal di Jalan ZA Pagar Alam, Kecamatan Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 06.00 pagi.
Dalam rekaman CCTV berdurasi 1 menit 42 detik yang ada di sekitar lokasi kejadian, terlihat sebelum ditembak, Brigadir Arya sempat berduel dengan pelaku.
Aksi duel terjadi usai Brigadir Arya memergoki pelaku yang tengah berupaya memetik sepeda motor didepan toko oleh-oleh Yusi Akmal.
"Sebelas tahun berlalu, namun aksi Curanmor masih juga belum reda. Pelaku kian merajalela dan beringas. Bahkan para pelaku tak segan menghilangkan nyawa siapapun yang menghalangi aksinya," ungkap Endra hasil pengamatannya selama ini.
Endra menambahkan, bahwa penindakan tegas terhadap pelaku Curanmor harus. Tapi lebih penting lagi bagaimana mencegah agar bibit-bibit pelaku Curanmor tidak muncul lagi.
Tak hanya kepolisian, peran serta pemerintah daerah juga diperlukan untuk melakukan pembinaan atau apapun itu untuk mencegah munculnya bibit pelaku curanmor di Bumi Ruwa Jurai.
"Karena mau bagaimana pun, mencegah itu lebih baik daripada mengobati," tandas Endra.
